Minggu, 20 September 2009

Takbir Itu Padamkan Api

Sembilan hari terakhir jelang ramadhan berakhir...

Saat ramadhan hendak menuju puncak kesempurnaan....

Saat dua puluh hari perjuangan berat telah dilewati...

Orang yang sungguh2 puasa pasti menginginkan bisa beribadah lebih khusyu' lagi di sembilan ato sepuluh hari terakhir itu. Di sana ada malam Lailatul Qodr : malam kemuliaan yang nilai pahalanya lebih besar dari pada beribadah selama seribu bulan (sepadan dengan 83 tahun ato seumur hidup manusia). Disana juga ada hari pembebasan dari api neraka bagi yang menyempurnakan puasa sampai hari terakhir.Mungkin hanya orang2 tertentu saja yang bisa meraih hadiah Allah itu.

Menahan haus dan lapar itu berat. Tapi batasnya jelas. Tenggorokan yang kering dan perut yang kosong merintih2 ingin diisi itu letaknya di dalam. Sementara mulut tempat pintu masuk makanan itu letaknya diluar. Nah, remnya diluar kan. Jadi bila ingin makan ato minum tinggal bungkam mulut. Orang lain pun bisa mengingatkan bila kita lupa makan / minum

Tapi menahan omongan itu tantangan besar. Ini masalah hati. Amarah yang meledak2, mata yang selalu awas pada kutu di lautan, telinga yg selalu ingin mendengar berita buruk. Semua dengan mudah mengoyak mulut yang sudah di bungkam. Mulut pun ember ke mana2. Nafsu rohaniah itu remnya ada di dalam ( hati). Hanya diri sendiri yang bisa mengendalikan.

Luluskah puasa saya kemaren? Ramadhan 1430 H. Sepertinya tidak. Wallohua'lam. Di sembilan hari terakhir saya malah dapat berita buruk. Jeleknya, rem di dalam hati blong. Pasrah di bawa setan yang lolos dari kerangkeng neraka (Katanya kalo bulan puasa setan pada di kerangkeng ya).

M yang sudah saya anggap sodara sendiri, saya percayai 1000 % omongannya ternyata bohong. Saya pun ngamuk. Istrinya yang tak bersalah pun ikut saya takut2in.

Di mata saya kelewatan sekali cara dia berbohong. Orang boleh saja becanda, berbohong sedikit buat sekedar lucu2an. Tapi kenapa ia mesti berbohong dgn berlindung di balik ayat2 Allah dan sunnah Rasul. Ini yg saya gak terima, agama buat main2.

Lebih dongkol lagi saat ia mengakui kebohongannya. Lagi2 ia pake asma Allah

M : Qodarollah. Ini sudah kehendak Allah

Beughhhhh!!!!! Kemarahan saya pun makin membuncah. Allah dijadikan topeng.

Ia minta maaf. Tentu saja bukan hal yang enteng untuk memaafkan penipu kelas berat. Sudah menipu manusia masih juga pake nama Allah. Saya ngamuk. Puasa yang suci ini bukannya di isi dgn baca Quran ato dzikir. Malah di nodai dengan umpatan2 dan perang kata2.

Semalam kami adu mulut via pesan pendek. Baru berhenti saat saya ingat ada UU ITE yang bisa menghukum orang. Sms pun bisa jadi bukti tindakan pelanggaran hukum. Tetap belum puas, paginya habis subuhan saya mulai lagi perang sessi 2. Saya buka dengan ucapan "La'natulloh wa malaikatihi...". Pagi2 sudah buka puasa dengan pertengkaran. Berhentinya setelah ingat harus masuk kerja. Sudah jam 07.00 wib.

Malam selanjutnya...

Saya gak tau apa yang ada dalam hatinya. Merasa menang ato apa. Tiba2 telpon berdering. "M memanggil" ,gitu pesan di layar.

M : Assalamualaykum

Me: Waalaykumsalam

M : Lagi apa?

Me: Lagi nangis

M : Bla...bla...bla...(minta maaf & ngasih penjelasan)

Me: Udah ?

M : Gini...gini...

Me: Udah ?

M : Udah. Assalamualaykum

Saya sudah malas dengar suara M. Pintar mencari pembenaran. Tapi habis taraweh bendera perang saya kibarkan lagi di pesan pendek. Benar2 tak ada maaf. Lagi2 ia membalas dengan permintaan maaf yang panjang lebar.

Istrinya juga minta maaf, tapi saya cuekin. Malah saya resend pesan2 pendek dari suaminya. Biar nyonya itu dongkol. Ada bukti otentik siapa yang mulai bikin onar. Bahkan sempat saya olok2 : selamat ganti kartu mbak. Tega bener tuti ini nyakitin sesama.

Berhari2 saya sedih, nangis, tapi menang dengan sikap arogan ini. Bak artis di infotainment kesandung batu, saya pun ngadu ke teman2. Untunglah mereka baik2, memberi saran yang positif dan melarang saya nyebar kejelekan orang. Shine, makrus, tangkil... u're the best.

Akhir ramadhan takbir berkumandang di penjuru langit. Allohu Akbar... Allohu Akbar... Di barisan jamaah sholat maghrib itu air mata menetes di pipi. Ingat dosa2 yang banyak sekali. Juga kesombongan yang sangat tak pantas dihadapan Allah. Ada Alloh yang Maha Besar mengawasi semua makhluk ciptaan-Nya. Orang2 di seluruh dunia memuji kebesaran-Nya. Sementara saya malah berkubang dalam kesombongan dan kehinaan.

Pulang dari masjid cepat2 saya kirim pesan pendek ke istri M. Minta maaf. Ia balas minta maaf juga. Malah pake mendoakan yang baik2 juga (tulus ato ngejek bu'? )

Gema takbir itu meluluhkan kekerasan hati tuti. Memadamkan api yang sempat berkobar- panasnya membara- menyulut dendam dan amarah berhari2. Terimakasih ya Allah ... masih Engkau beri hamba-Mu kesempatan bertaubat.
READ MORE - Takbir Itu Padamkan Api

Rabu, 09 September 2009

Jalan Hidup

Kata Makrus, sahabat asal Semarang yang sekarang jadi area manager produk minuman "pocari sweat" di propinsi Aceh, hidup saya menyenangkan. Hahahahaha..... Ada-ada saja sahabat muda ini. Begitulah manusia, selalu melihat orang lain lebih bahagia daripada diri sendiri. Saya pun begitu, kalo lagi capek dan sumpek, rasanya melihat orang gak kerja kok sepertinya nyaman sekali. Bisa tidur sepuasnya, hehehehehe.

Hidup tentu seperti roda pedati. Ah sudah kuno. Baiklah, seperti jalan saja. Kadang mulus, kadang ada tanjakan, kadang menurun, kadang terperosok masuk lumpur juga. Apa yang di alami satu orang bisa di alami orang lain. Tapi apa yang dirasakan satu orang, belum tentu bisa dirasakan orang lain. Orang Jawa nyebutnya "sawang sinawang". Saling memandang. Saya memandang hidup kamu lebih baik. Padahal... belum tentu. Kalo di peribahasakan kira2 : rumput tetangga lebih segar daripada kebun sendiri.

Mungkin karena yang di tulis di blog ini baru yang biasa2 saja jadi tampak menyenangkan. Baiklah, saya bocorkan aib2 saya yang cukup memalukan. Biar blognya keliatan dramatis ya, hehehehe. Tapi ini beneran lho...

1. Menjelang puasa saya di tendang dan di jambak bapak. Sedikit menyakitkan hati dan saya sudah bersiap menerima tempelengan berikutnya. Maklum saja, bapak tuh kakinya tiap hari terlatih nendang bola. Jadi bisa di ramalkan episode apa berikutnya bila kaki sudah mulai melayang. Selain itu juga betapa kuatnya kaki bapak, yang pasti berotot kuat. Untung saja yang di hentakkan ke kaki saya adalah tendangan dekat. Coba kalo tendangan jarak jauh atau tendangan pisang, apa gak melepuh kaki saya.

Gara2nya sepele. Saya ngomel2 karena paman minjam motor sampe larut malam. Bapak tak suka dengan sikap saya yang tak ikhlas membantu. Sudah di kasih tau tapi tetap saja membantah. Akhirnya bukan mulut yang bicara untuk menghentikan omelan saya. Tapi kaki dan tangan.

2. Di tolak saat melamar kerja. Kuliah di ikip (sekarang uny) mempelajari ilmu ekonomi dan kependidikan hingga lulus. Tentu pengin ngamalin ilmu. Kata ustadz dan para cerdik pandai ilmu yang tidak di amalkan ibarat pohon tak berbuah. Eeeehhh.. tiap kali melamar jadi guru ternyata gak pernah di terima. Ada2 saja alasan penolakan. Cape deh.

Akhirnya kerja di bengkel. Meski bau oli, asap knalpot, keringetan, dimarahi customer, bos dan jam kerjanya seharian full, tapi lumayan juga. Bisa beli baju, jajan, jalan2, ngenet, ketemu teman2 baru. Mungkin saja kalo jadi guru tuti ini malah sombong dan merasa paling hebat. Bagaimanapun saya harus berterimakasih pada semua orang, teman2 kerja, orang2 serumah yang walo kadang galak tapi hatinya baik, juga para bos. Dan terutama sekali pada Allah tentunya.

3. Anti Sosial. Tuti ini malas bergaul. Kuper. Temannya bisa dihitung dengan jari. Kalo liat film (ini nih penyakitnya: lebih suka menyepi liat film ketimbang bersosialisasi dengan sesama manusia) yang tokohnya kuper rasanya "gue banget". Ada film pemuda kuper yang temannya adalah tikus (ratusan tikus siap membantu kala ia ada bahaya). Ada juga film pemuda kuper yang temannya adalah bayangan sang ibu. Padahal sang ibu sudah mati.

Dalam kenyataan maupun film, jadi orang kuper itu tersiksa. Di berita ada mahasiswa korea di AS yang kuper. Saat frustasi ia tembaki teman2 kuliahnya tanpa ampun. Ada juga berita seorang pemuda AS yang kuper, merasa tak ada seorangpun wanita yang mau mencintainya. Frustasi, lalu menembaki orang2 di dekatnya. Endingnya : dua2nya menembakkan pistol ke kepala mereka. Kompak ya.

Karena malas bergaul, saya pun... gak laku2, hehehehehe. Padahal kata ustadz yang ngisi pengajian kemaren : menyendiri itu tidak baik. Orang harus selalu dalam jamaah. Domba yang berjalan sendiri akan lebih mudah dimangsa beruang ketimbang domba yang berkelompok.

Begitulah sedikit aib saya. Kadang senang, kadang susah. Kadang ada rejeki, kadang bokek, hehehehe. Temannya gak banyak, gak pinter bergaul. Sukanya liat film drama yang nangis2. Temennya malah artis donk kalo gitu. Saya kenal, dia gak kenal.
READ MORE - Jalan Hidup

Kamis, 03 September 2009

Subuhan

Jumat. 4 September 2009

Memasuki hari ke 16 Bulan suci Romadlon

Subuhan. Alhamdulillah...bisa datang ke masjid buat sholat berjamaah. Semoga malaikat tidak terhenyak melihat kehadiran saya di serambi rumah Allah (yang dalam buat kaum Adam soalnya). Tumben...datang ke masjid.

Habis imsya' tadi cepat2 gosok gigi, wudlu, terus ke masjid. Sampai masjid masih azan. Belum banyak yang datang. Jadi masih bisa menikmati keheningan "surga". Dan bebas milih tempat, masih banyak yang kosong. Dan biar gak di lompat-lompati orang baiknya ambil tempat yang depan saja.

Malaikat : Datang ke masjid sekali aja pamer. Sok banget kau tut.

Setan : Awas ya sekarang kau boleh rajin, besok ku ikat lagi kakimu.

Me : Na'am. Kalian berdua benar. Kadang mihak malaikat, kadang setan juga.


Sholat subuh jamaah ternyata bikin hati tenang ya. Hiks...ini kalo lagi nyadar. Kalo lagi kumat ya enakan...ngorok.

Habis sholat ada ceramah. Yang ngisi ceramah masih muda, berjenggot, mukanya hitam tapi bersih bercahaya. Berbaju lurik merah marun lengan panjang. Akhir2 ini makin banyak anak muda berjenggot ya. Pasti orang kafir kesal lihat orang muda makin banyak yang bangga dengan identitas islamnya. Berjenggot, berjilbab, muka yang bersinar karena air wudlu. Dan yang lebih penting adalah substansinya: tidak narkoba, tidak kriminal, tidak ugal-ugalan.

Inilah inti ceramah beliau:

1. Sholat subuh berjamaah itu pahalanya = sholat sepanjang malam.
2. Tidak berterimakasih kepada Allah bila tidak mau berterimakasih kepada manusia.
3. Amalan manusia yang dicintai Allah setelah sholat fardlu adalah membahagiakan
orang lain.

Begitulah isi ceramah subuh yang singkat namun padat berisi pagi itu. Beruntung saya bisa mendengar petuah bagus itu. Tapi mestinya lebih bagus lagi bila bisa mengamalkan sedikit demi sedikit.
READ MORE - Subuhan

Sabtu, 15 Agustus 2009

Lagi lagi...Gak Libur

Besok Senin, 17 Agustus 2009 HUT RI. Tanggal merah euy. Mestinya libur. Apalagi sudah dua pekan saya tidak libur karena bapak pengawas pergi ke Jakarta ngurus neneknya yang sakit, terus meninggal. Si nenek itu hidup sebatang kara di ibukota. Jadi atasan itu ngurus semuanya , luamaaaaaa ...banget. Jadi HUT RI besok itu adalah satu satunya harapan buat bisa libur.

Tapi harapan itu kandas saat Purnomo bilang teman2 mau masuk kalo boleh ada bonus. Dan bapak pengawas pun bilang lewat telpon kalo tiket ke jogja sudah habis sampe 17 Agustus. Lengkap sudah siksaan tak bisa libur. Ohhhhhhh MG......

Badan ini sudah hancur. Pengin libur sehari saja. Pengin merebahkan badan, tidur2an, nongkrong di depan tv ato nyewa DVD. Tapi itu semua sudah jadi barang mahal ternyata. Dannnn...nyolong2 ke warnet inilah rehat saya setelah bosan menghirup asap knalpot di bengkel.

Ssat bos nengok ke bengkel, sayapun menyampaikan pesan Purnomo.

Bos : Silakan, kalo Tuti mau. Tapi kalo Tuti mau libur ya gak usah buka.

Hicks, saya pengin libur. Tapi juga sayang ma teman2 seperjuangan. Bisa gak ya besok tanggal merah itu masuk tapi tidur saja di bangku? Beughhhhhhh ...bisa aja asal gak malu, hehehehe.
READ MORE - Lagi lagi...Gak Libur

Gagal Ketemu Zhayyid

Zhayyid atau Mirza adalah sahabat di moeslem. Saya gak nyangka kalau ternyata dia adalah orang penting, founder moeslem.

Beberapa waktu lalu dia bilang kalo mau merit. Kali aja ya... banyak gadis kecewa, hehehe. Maklum aja orangnya baik. Karena tempat mempelai wanita nya di Solo, saya pun pesen "tiket" alias pengin di undang juga.

Dan dia betul2 memenuhi janjinya ngirim undangan via sms. Tentu saja ini acara penting. Undangan istimewa dari sahabat istimewa. Sahabat yang jauh dari ujung barat Indonesia sana. Sahabat yang sangat baik, bukan saja pada satu atau dua orang, tapi pada semua orang.

Saya pun segera menyiapkan segala sesuatunya. Ngontak mbak Ningrum yang orang Solo, Shine dan mas Danang. Juga mempertimbangkan alat transport mana yang paling praktis dan nyaman. Naik kereta Prameks, bus ato travel. Sepeda motor di black list karena takut papasan ma kendaraan besar yang suka ngebut. Terus juga...beli baju baru, hehehe. Dasar cewek, selalu kostum yang dipikir.

Tapi apa yang terjadi di hari H, 8 Agustus 2009 ? Bapak pengawas pergi ke Jakarta. Huuuu...penonton kecewa. Yach, seperti kecewanya para penggila bola yang batal nonton Manchester United tanding saat hari H sudah di depan mata. Batal sudah semua rencana yang sudah di susun rapi.

Sangat kecewa, tapi mau gimana lagi. Benar2 di luar dugaan. Maafin saya Mirza. Ternyata Tuti belum bisa jadi sahabat yang baik. Tak bisa menghadiri acara penting yang hanya terjadi sekali dalam seumur hidup. Sekali lagi...maafffff sekali.
READ MORE - Gagal Ketemu Zhayyid

Jumat, 17 Juli 2009

Kejutan Nyata

Perasaan saya berkecamuk. Antara menghujat dan tidak menghujat. Antara sedih dan prihatin. Antara percaya dan tidak percaya. Antara yakin dan tidak yakin. Saya benar2 tidak bisa membuat istilah yang benar yang menggambarkan situasi hati ini, saat ini, hari ini.

Ingin saya tuliskan apa peristiwa itu dan mengapa sedemikian seolah mengalami sendiri. Padahal peristiwanya jauhhhhhhh dari tempat saya berdiri sekarang. Dan saya merasa ini adalah peristiwa penting yang harus cepat2 di catat.


Tapi ternyata itu tak perlu saya katakan. Peristiwa apa dan ada di mana tak perlu di jelaskan pada dunia. Sudah ada yang kompeten untuk menjelaskan.

Awalnya waktu itu saya kabarkan ke dia tentang sebuah peristiwa yang saya lihat di tv. Dia hanya bilang : " Terus?"

Me : " Terus saya gak liat kelanjutannya."

Saya tahu dia hanya mancing. Dan saya benar2 tak tau bagaimana kelanjutannya. Saya tak tega melihat berita tentang hal itu. Terus dia bilang : besok jangan kaget kalo ada peristiwa yang lebih besar.

Belum berselang satu minggu tiba2 peristiwa besar benar2 terjadi. Saya terhenyak. Inikah maksud omongan dia? Ya Allah...lindungi hamba-Mu.

Saya kirim ke dia pesan pendek. Tak terkirim. Hapenya atau nomornya off.

Secara fisik kami tak pernah kenal. Tapi secara emosi dia seperti sahabat beneran. Ya Allah... jadikan saja sahabat saya itu Bilal. Seorang yang sederhana dan tidak punya keinginan aneh2. Tapi tentu saja saya tak berhak ngatur siapapun. Saya hanya bisa berdoa. Berharap sahabat itu dalam kondisi baik2 dalam lindungan Allah pemilik alam semesta.

Ya Allah lembutkanlah hatinya agar ia bisa menyayangi siapa saja. AAmien...+
READ MORE - Kejutan Nyata

Rabu, 15 Juli 2009

Malu Bertanya Sesat Di Samsung

Tanpa konsultasi siapa2 saya beli samsung B200. Promonya sih bisa gprs. Harganya 435 ribu. Lalu di setting gprs sendiri pake im3. Beberapa hari di tunggu tak ada respon. Usai kerja saya pun mampir ke galeri indosat buat setting. Dapat nomor urut 271. Yang sedang di panggil baru nomor 220. Weks, nunggu 50 urutan lagi. Karena lagi gak sholat saya pun sabar menunggu. Yang pasti akan nabrak maghrib.

Ruang tunggu penuh sesak. Seperti di bank aja karena semua modis dan wangi. tapi sekeliling saya penuh orang pda - public display affection - alias pamer cinta. Jadi ini tidak seperti di bank, tapi seperti di bioskop.

Di depan saya sepasang orang gendut yang sibuk sayang2an. (Saya jadi mikir..napa orang mesti diet mati2an biar langsing kalo orang gendut pun tetap bisa bahagia dan sayang2an). Sebelah kiri sayapun begitu, sepasang abg yang sibuk pacaran dan cekikian berdua. Di sebelah kanan... tembok. Tembok bercat kuning yang terdiam kaku. Menatap saya yang manyun sendiri. Saya sentuh dia...dinginnn. AC kantor ini tak hanya menusuk tulang saya, tapi juga tulang2 tembok yang tebal.

Malam mulai datang. Gelap di luar sana. Cahaya lampu2 meretas di seberang jendela kaca : Jalan kotabaru yang eksotis. Area peninggalan Belanda yang masih di pertahankan keindahannya.

Setelah bangku2 mulai kosong nomor saya pun di panggil. Hp samsung b200 pun di utak atik oleh noni cust servis. Dengan singkat hp sudah bisa buat ke google.

Terus saya ke ramai mall buat dunlud irc. Sama mas counter dibilangin kalo samsungnya gak bisa buat dunlud aplikasi. Kalo dipaksa malah matek. Yang bisa tuh nokia ato SE. Akhy Zarqowi juga bilang kalo yang bagus SE tipe K ato W. Mbak ningrum juga bilang kalo mo nokia yang dah lumayan bagus tuh 2600. Beughhh... sial nih kerja kerasnya, bolak-baliknya cuma sia2.

Saya jadi muak lihat Samsung pembawa sial ini. Untung saja kakak mau pake. Gak jadi mubazir deh.
READ MORE - Malu Bertanya Sesat Di Samsung

Lapar, Cape, Sakit

Sabtu, 10 Juli 2009

Akhir pekan, kerjaan rame. Pulang mampir rumah bos, serahkan laporan. Hati plong kalo sudah serahkan tugas. Besok mulai lagi dari lembar baru.

Langit sudah gelap, azan maghrib terdengar di antara deru kendaraan. Inilah tuti yang tengah berada di belantara kapitalisme. Azan maghrib bukannya berhenti untuk sholat. Malah berebut jalan bersama ratusan kendaraan lain yang hendak menikmati akhir pekan di tengah kota.

Melewati jalan Urip Sumoharjo yang penuh sesak manusia memenuhi hasrat berbelanja. Parkir di tepian jalan penuh sesak. Lalu bioskop 21 yang belum lama buka pun tampak anggun. Masih baru kinyis2. Parkirnya membludak. Mobil2 bagus berderet. Sementara motor yang mungkin ada ratusan parkirnya sampe di bahu jalan. Entah film2 apa yang baru di putar hingga bikin orang rela datang membanjiri. Ini baru petang hari. Gak kebayang nanti makin malam, pasti makin membludak pengunjungnya. Mata saya harus melotot kalo jalan sesak gini biar gak nubruk.

Tapi perut ini rasanya kosong sekali. Lapar...... Selain lapar badan ini juga pegal semua. Capek. Rasanya sudah tak sabar ingin segera nyampe rumah. Mau makan dan cuci muka.

Sampe rumah berpapasan dengan orang2 yang baru pulang dari masjid. Inilah kampung, beda jauh dengan kota. Tiap waktu sholat orang berbondong2 ke masjid ato musholla. Biar akhir pekan masjid tetap rame.

Sampe rumah ternyata ada abang sulung. Dia sudah siap2 angkat kaki hendak pulang. Saya ingat, ada keju di kantong belanjaan. Rifka, anak abang yang kecil paling suka keju. Kemaren pas libur pemilu saya sempatkan beli sebungkus buat dia.

Buru2 saya pun lari ke kamar. Kawatir abang keburu pergi. Kejunya masih ngumpul sama aneka kosmetik. Tiba2.... jedug!!! Kaki yang kiri terantuk batu semen. Sakittt..sekali.

Abang : Sakit ?

me : Tidak. Masak kalah sama anak kecil

Padahal... sakit sekali. Nangis deh. Pasti perih sekali kalo kena air nanti.

Setelah abang pulang, sayapun makan. Makan apa ya? Makan cemilan emping. Makan nasi sedikit dengan kuah kari. Ada ayam, tapi saya tak suka ayam. Serat ayam/ daging sapi suka bikin gusi sakit. Makanya lebih suka makan ikan, tahu ato tempe saja. Tapi malam ini tak ada ikan, tahu ato pun tempe. Jadi kuah pun sudah cukup.

Dulu pun pas di traktir Rudi di kfc kita tidak makan ayam. Rudi sudah makan malam sama timnya. Sedang saya takut makan ayam di luar (kalo di rumah masih bisa di atasi dengan dental floss). Akhirnya sambil ngobrol kita cuma beli dessertnya saja. Waffel with cream, pudding dan pepsi. Makasih Rud, semoga rejeki kamu di tambahi Allah. Rudi adalah sahabat di moeslem.

Esoknya kaki yang lecet dan perih bertambah deritanya. Jadi bengkak membiru. Nyeriiiiiii sekali. Duhhhh... udah tua kok ya masih suka lari2.
READ MORE - Lapar, Cape, Sakit

Bisakah?

Satu per satu sahabat meninggalkan masa lajang. Mendapatkan pasangan terbaik dan melangkah berumah tangga. Yang terbaru : Mirza sama... Dan Mas Danang sama... Dulu saya biasa2 saja menerima undangan atau mendengar kabar bahagia itu. Datang, mengucapkan selamat dan makan. Tapi sekarang saat usia makin meninggi akhirnya merasa ketinggalan kereta juga saat ada teman yang munakahat.

Selama ini saya memang tak peduli dengan etape yang harus di lalui setiap manusia itu. Saya merasa tak siap untuk melangkah. Saya hanya siap buat jalan2, beli2 di toko, menghabiskan uang gajian dengan bersenang senang memanjakan diri sendiri. Itu sudah kebahagiaan terbesar.


Bibi2 mengatakan bahwa saya tak pedulian. Itu benar. Bukankah manusia seperti ikan di dalam akuarium yang bisa di lihat dari sudut manapun? Tapi akhir2 ini perassaan saya berubah. Saya jadi peduli.

Ini karena ada 'teguran'. Beberapa tetangga lelaki yang usianya bisa di bilang jauh di bawah saya berani menutuskan untuk menikah. Itu adalah teguran yang nyata buat saya. Kalo yang lebih muda saja berani mengapa saya yang tua ini masih saja takut. Tapi tekad mereka patut di acungi jempol. Berani mencoba bertanggung jawab pada hidupnya. Sementara saya selalu jadi anak ayam yang meringkuk di pojok ketiak induknya.

Orang yang menikah meski masih muda berarti sudah jadi orang tua. Punya wewenang sendiri mengatur hidup dirinya dan keluarganya sendiri. Sementara orang yang sudah berumur kalo belum menikah namanya tetap saja anak2. Saya sudah merasakan sendiri.

Meski sudah tua saya tak berhak ngatur rumah. Bapak dan ibulah yang punya wewenang ngatur. Saya sudah tak pantas lagi marah ato protes kalo ada hal yang tak di sukai di rumah. Tapi juga tak punya wewenang untuk mengatur. Jadi kalo ada hal yang tak di sukai di rumah saya cukup diam ato pergi.

Beda kan kalo sudah berumah tangga. Ia jadi kepala dan ratu rumah tangga. Adek saya si Asih yang sudah berumah tangga bebas mau ngapain saja karena ia sudah punya tanggung jawab sendiri pada suami. Bapak dan ibu tak pernah negor meski satu rumah. Karena orang tua tak punya wewenang lagi sama Asih. Sementara saya, kakaknya ini malah selalu kena tegor kalo pulang telat, malas makan, ato tak segera nyuci baju yang sudah di rendam.

Gondok deh jadinya, kok di perlakukan sepert anak2. Tapi kalo mo protes... gak bisa. Ntar di bilang berani ma orang tua. Duhhhh serba susah jadinya. Ngelayap ke warnet aja deh... lagi2 ngabisin uang gaji
READ MORE - Bisakah?

Es campur

Rabu, 8 Juli 2009

Baru masuk kerja dua hari, dah dapat libur lagi. Libur pemilu pilpres. Bangun pagi, mandi, ngopi, nyuci baju. Trus sarapan pake sup bakso bikinan Asih. Malamnya ke rumah bibi Kah. Ia punya anak ABG bernama Uut yang rada melek teknologi. Saya mau tanya ke dia soal hape Samsung yang kemaren barusan saya beli. Si Samsung ini mau buat mainan. Yang Nokia buat nyari duit.

Duuuh.. punya dua hape, kek orang punya dua istri saja. Istri pertama dah jelek, berat, bosenin. Tapi otaknya pinter, memorinya penuh informasi penting dan sanggup di ajak kerja keras. Itulah si nokia 1200 biru.

Istri kedua cakep, masih langsing, menarik, wajahnya mempesona dan enak dilihat. Tapi otaknya gak encer. Memorinya baru sedikit. Manjanya juga minta ampun. Gak mau di letakkan sembarangan. Takut kulit mulusnya tergores. Saya harus merogoh kocek 22 ribu buat beli dompetnya. Fungsinya juga cuma buat main2. Sayang kalo harus di ajak kerja keras buat nyari duit. Ehhh.. malah morotin dompet saja.

Hahaha.. mungkin saja kemaren nokia itu rusak karena ia merajuk. Punya saingan baru, hehehehe. Beughhhhhhhh.. kek orang penting saja, punya hape dobel.

Nah, pas di rumah bibi itu ternyata ada tamu famili dari Jakarta. Orangnya sebetulnya hitam. Tapi karena berduit sekarang mukanya jadi putih mulus. Saat saya sedang di dalam omong2 sama Uut, tamu itu bicara sama cucunya yang masih balita:
'Coba gimana cara cuci muka yang benar? Diliatin gih biar wajah gak kasar.'

Saya ketawa ngikik. Dasar orang berduit, kulit saja di puja-puja. Orang miskin mah gak mikirin kulit. Bisa makan saja sudah bersyukur sekali. Dan demi bertahan hidup itu kami korbankan muka menghitam, tangan kapalan dan kulit kasar. Kalo gak kasar...ya gak makan.

Waktu saya mau pulang, tamu itu bertanya : 'Tut, kamu tuh sudah punya momongan berapa?' Bingung, malu, kaget, terkejut...nyampur jadi satu. Bak es campur saja. Asal saja saya pun jawab dengan tunjuk anak2 kecil yang ada di sana : 'Satu, dua, tiga, empat'. Dannnnnnn ...langsung kabur.

Entah apa yang ada di benak para tamu itu. Mungkin ga sopan sekali karena ditanyai orang tua malah cengengesan. Oh MG, kenapa selalu itu pertanyaan yang terlontar setiap ketemu orang. Saya gak pernah bisa menjawab dengan sopan.

Banyak orang yang menikah dan bahagia. Tapi ada juga beberapa teman yang menikah hanya karena malu sudah di kejar umur. Di makan kalender bahasa ledekannya. Hasilnya? Bibi R cerai karena suaminya masih abg banget, gak bisa di ajak mikir. T jadi istri ke sekian. Saat ia sakit suaminya ga nengok. Saat ia meninggal suaminya juga gak datang. Sekarang anaknya di rawat abangnya yang kebetulan baik hati.

Jadi...simpulkan sendiri aja ya... me juga gak ngerti.
READ MORE - Es campur

Pantai dan Hape

Ahad, 5 Juli 2009

Cihuyyyyyy...libur. Bangun pagi, mandi, cuci baju. Siangnya habis zuhur di ajak Asih nengok khitanan keponakan di Kretek. Berhubung pesertanya banyak, saya ngalah mau naik motor. Tiba2 secara mendadak bibi dan suaminya mengundurkan diri karena ada acara sendiri. Ya udah, saya nebeng gerobak saja. Naik motor jauh2 itu bukan hobi saya. Cape dan panas. Apalagi kalo musim liburan gini. Jalan pada macet. Dulu pernah mau ke pantai sendiri, jalan macet, malah mau nyenggol bemper panther. Beughh... abis itu kapok deh jalan2 kalo macet. Kalo jalan sepi sih enak. Wus...wus...bisa ngebut.

Setelah semua kumpul berangkat deh. Samperin dulu rumah abang di Bibis. Istri dan 2 anaknya dah nunggu. Abang gak ikut karena pergi kuliah sore. Jam setengah tiga nyampe di Kretek. Duduk2, ngobrol, minum teh dan makan kue di rumah Yuni yang anak sulungnya di khitan. Yang lain pada makan nasi dengan lauk pauk lengkap tapi saya cukup lihat saja. Nanti mau makan pake ikan saja di pantai. Lalu perjalanan dilanjutkan ke pantai Depok yang hanya berjarak 2 kilometer dari rumah Yuni.

Nikmati angin pantai yang semilir dan ombak laut. Ombaknya baru ganas nih. Perahu2 nelayan pun cuma bersandar di daratan. Tak satupun perahu yang melaut. Uff tak ada ikan segar nih. Padahal sudah bayangkan makan ikan bakar segar dan udang goreng dengan saus asam pedas. Duhhhh ... ga jadi ngudap deh. Padahal dah di bela2in puasa sedari siang.

Pengunjungnya banyak sekali. Ramai luar biasa. Parkirnya sampe full. Keluar masuk tiada henti.Dan jam lima sore tiba2 hape saya mati. Duuuhhhh.. padahal baterenya masih 4 strip. Efek air laut nih.

Esoknya di periksa Pak Ito yang punya counter hape. Katanya sih softwarenya yang kena. Kalo fisiknya kering. Trus di cek sama mas Arif. Katanya kalo kena air cepetan batrenya dilepas, di angin2 biar gak konslet. Karena dalemnya masih segel dan garansi mas Arif sarankan untuk di bawa ke graha nokia saja.

Saya pun turuti saran mas Arif. Batre di angin2, selasa sorenya bawa ke nokia servis centre jalan Mangkubumi. Bawa sekalian nota pembelian dan kartu garansi yang masih tersimpan di box.

Di NSC dapat nomor urut 114. CS yang pake rok mini dan stocking hitam dengan cekatan pegang drei dan membedah hape biru ini. Dia bilang connectornya kena air. Kalo di servis bayar 70 ribu dengan resiko ada program yang hilang ato mati total. Weks, kok berat ya resikonya. Wah, jadi sayang nih kalo di bongkar. Saya batalkan saja rencana servis. Siapa tau di tempat lain ada yang tanpa resiko.

Malemnya saya hidupkan hape. Ehhh.. nyala lagi. Saya tunggu2... gak matek2 lagi. Sampe tulisan ini di di bikin (hicks... boleh aja kan nulis bergaya wartawan, hahahaha... wartawan gagal kamu tut!) si hape tetep aja bandel, ga matek2 lagi. Alhamdulillah.. panjang umur dia. Duhhhh.. udah bikin majikannya deg degan aja.

Makasih ya pak Ito dan mas Arif yang udah kasih saran cespleng.
READ MORE - Pantai dan Hape

Sabtu, 13 Juni 2009

Ejekan Itu Cambuk

Pernahkah Anda di ejek? Saya yakin hampir semua oang pernah di ejek. Ada ejekan yang serius, candaan atopun sindiran. Biasanya orang akan mengingat terus ejekan yang di terima. Susah melupakan ejekan dan kalo fatal, mengendap di hati jadilah dendam.

Sejak di dalam rahim, lahir jadi orok sampai tua renta manusia bisa menerima pesan dari orang lain. Pesan yang menyakitkan termasuk ejekan di terima dengan hati sedih. Pesan yang menyenangkan di terma dengan riang.

Maka kalimat bijak mengatakan: Jika anak di asuh dengan ejekan maka ia kelak jadi minder (rendah diri). Jadi kalo sama anak kecil jangan suka ngejek. Karena ia takut untuk membalas ato tak bisa menjelaskan yang sebenarnya maka ejekan itu hanya di simpan di hati. Ia merasa bahwa ejekan itu "benar" dan mencuci otaknya dengan "kebenaran" ejekan itu. Terbawa terus sampe dewasa. Tumbuhnya jadi gak sempurna. Minder dan kehilangan spontanitas.

Pada orang dewasa ejekan bisa berbuah malapetaka. Karena yang di ejek sakit hati maka jadilah permusuhan / pertengkaran. Tapi ada juga yang membalas ejekan dengan dendam positip : Saya bisa lebih baik dari kamu !!!

Kasus Pertama :

Teman saya ada yg mo melahirkan. Suaminya kerja tak tentu. Lalu pas mau ke rumah sakit mertuanya nyoba pinjem uang ke orang. Apa yang didapat? Orang (kaya) itu pura2 tak dengar. Duuhhh.. nyakitin sekali. Di saat2 genting, bener2 butuh uang untuk nyawa pun tak dikasih.

Tidak itu saja. Sama saudara iparnya teman saya itu selalu di cemooh: Dasar orang miskin !!, begitu kira2.

Apa jawaban teman itu? Ia tak menjawab dengan kata2 tapi dengan tindakan. Sehabis masa menyusui ia bikin kue. Jam satu dinihari sudah mulai menggoreng sendirian. Subuh, saat orang masih terlelap ia jalan kaki ke pasar nganterin kuenya. Dia setor2kan ke grosir. Pinter kan? Jadi ia bisa bikin kue dalam jumlah besar karena yg dia setori grosir, bukan pengecer.

Lama2 omsetnya naik. Banyak orang yang pesen juga karena lama2 pada tau kalo ia bikin kue. Sekarang ia sudah jadi konglomerat. Jangan tanya jumlah pendapatannya. Yang jelas ia kembangkan usahanya jadi rumah kost, tanah, kendaraan, tabungan di bank, emas, dan entah apa lagi.

Sekarang saudara iparnya mana berani ngejek karena semua nenek/ kakeknya dia yang mnghidupi.

Kasus kedua :

............

Cape nih dan ngantuk karena ngetik sambil chatting. Masih banyak cerita tapi besok2 aja ya.

Jadi sebagai orang dewasa, kalo kita di ejek tak usah kecil hati. Apalagi sampe marah dan dendam. Apalagi minder, enggaklah. Bisa2 orang makin seneng ngejek kita.

Anggap saja ejekan adalah teguran pada kita. Bahwa orang care sama kita. Walao caranya rada sadis. Ejekan bisa jadi cambuk biar kita lari lebih kenceng.
READ MORE - Ejekan Itu Cambuk