Tampilkan postingan dengan label jangan sakit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jangan sakit. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Desember 2009

Hendak Sakitkah?

Siang yang mendung, kalo sore kadang2 hujan lebat. Beginilah kalo sudah masuk musim hujan. Walo awan gelap tampak menggantung di langit, tapi rasa gerah mengalahkan semua. Mendung tapi panas.

Dan di siang itu, tiba2 saya menghirup debu. Debu sialan, ia tertiup angin kencang, terhisap ke hidung tanpa sempat saya antisipasi. Debu2 itu terasa sekali masuk ke hidung dan tenggorokan. Walo tak terlihat tapi indra ini benar2 tajam untuk merasakan perjalanannya di organ pernapasan. Tinggal menunggu waktu, besok flu menyerang.

Begitulah, sudah takdir bila debu masuk ke tubuh makhluk hayati. Virus2 yang hidup subur di dalam debu segera pindah habitat. Menginvasi tenggorokan, menggelitik sampe gatal, lalu bikin orang bersin2, demam, pusing, pilek dan terakhir batuk.

Tanpa nunggu waktu, saya segera siapkan jurus menyambut kedatangan flu. Banyak2 minum dan tidur sore2. Selain itu juga makan mie mie hangat di tambahin satu biji cabe rawit. Konon, cabe kecil ini banyak vitamin C. Ia sanggup bikin orang jadi segar.

Oh ya, walo cuma mie, itu bukan buatan sendiri. Adek yg bikin. Tuti ga pernah masak karena hasil jerih payah saya berkutat di dapur tak ada yg doyan mengkonsumsi. Mubazir, terbuang percuma. Makanya teman2 tak pernah menjumpai cerita tuti masak di sini. Apalagi harga minyak tanah mahal. Kasihan kan sama ibu, kalo saya membuang2 emas cairnya. Pake gas katanya lebih murah dan cepet, tapi ibu takut kalo meledak.

(Pernah ding kemaren masak pas libur. Masak gule ayam. Ga tau rasanya gimana menurut orang, karena gak pake resep yang valid. Langkah pertama, beli ayam dolo di tempat yg terpercaya. Lemaknya dikit (ayam kurus kaleeeee), irisannya rapi, dan harganya ga pake nawar. Beli setengah kilo harganya 11 ribu. Terus beli bumbu gule yg udah jadi harganya 2500 perak. Terus beli santan instan di warung ibu seharga 1500 perak.

Di masak ga sampe sejam , uang senilai 15 ribu udah berubah jadi gule ayam sepanci. Cepat, hemat, lezat. Nurut saya lhoooo.. xixiiix membesarkan hati sendiri. Maklum, masaknya aja bergaya ala chef di tv. Serba instan).


Nah, selain makan mie anget, juga minum susu, juga air tomat. Waduh, rakus banget. Semua masuk perut. Semoga saja jurus2 ini bisa mencegah flu. Soalnya kalo sampe sakit harus di rasain sendiri. Hiiii...takuttttt
READ MORE - Hendak Sakitkah?

Rabu, 15 Juli 2009

Lapar, Cape, Sakit

Sabtu, 10 Juli 2009

Akhir pekan, kerjaan rame. Pulang mampir rumah bos, serahkan laporan. Hati plong kalo sudah serahkan tugas. Besok mulai lagi dari lembar baru.

Langit sudah gelap, azan maghrib terdengar di antara deru kendaraan. Inilah tuti yang tengah berada di belantara kapitalisme. Azan maghrib bukannya berhenti untuk sholat. Malah berebut jalan bersama ratusan kendaraan lain yang hendak menikmati akhir pekan di tengah kota.

Melewati jalan Urip Sumoharjo yang penuh sesak manusia memenuhi hasrat berbelanja. Parkir di tepian jalan penuh sesak. Lalu bioskop 21 yang belum lama buka pun tampak anggun. Masih baru kinyis2. Parkirnya membludak. Mobil2 bagus berderet. Sementara motor yang mungkin ada ratusan parkirnya sampe di bahu jalan. Entah film2 apa yang baru di putar hingga bikin orang rela datang membanjiri. Ini baru petang hari. Gak kebayang nanti makin malam, pasti makin membludak pengunjungnya. Mata saya harus melotot kalo jalan sesak gini biar gak nubruk.

Tapi perut ini rasanya kosong sekali. Lapar...... Selain lapar badan ini juga pegal semua. Capek. Rasanya sudah tak sabar ingin segera nyampe rumah. Mau makan dan cuci muka.

Sampe rumah berpapasan dengan orang2 yang baru pulang dari masjid. Inilah kampung, beda jauh dengan kota. Tiap waktu sholat orang berbondong2 ke masjid ato musholla. Biar akhir pekan masjid tetap rame.

Sampe rumah ternyata ada abang sulung. Dia sudah siap2 angkat kaki hendak pulang. Saya ingat, ada keju di kantong belanjaan. Rifka, anak abang yang kecil paling suka keju. Kemaren pas libur pemilu saya sempatkan beli sebungkus buat dia.

Buru2 saya pun lari ke kamar. Kawatir abang keburu pergi. Kejunya masih ngumpul sama aneka kosmetik. Tiba2.... jedug!!! Kaki yang kiri terantuk batu semen. Sakittt..sekali.

Abang : Sakit ?

me : Tidak. Masak kalah sama anak kecil

Padahal... sakit sekali. Nangis deh. Pasti perih sekali kalo kena air nanti.

Setelah abang pulang, sayapun makan. Makan apa ya? Makan cemilan emping. Makan nasi sedikit dengan kuah kari. Ada ayam, tapi saya tak suka ayam. Serat ayam/ daging sapi suka bikin gusi sakit. Makanya lebih suka makan ikan, tahu ato tempe saja. Tapi malam ini tak ada ikan, tahu ato pun tempe. Jadi kuah pun sudah cukup.

Dulu pun pas di traktir Rudi di kfc kita tidak makan ayam. Rudi sudah makan malam sama timnya. Sedang saya takut makan ayam di luar (kalo di rumah masih bisa di atasi dengan dental floss). Akhirnya sambil ngobrol kita cuma beli dessertnya saja. Waffel with cream, pudding dan pepsi. Makasih Rud, semoga rejeki kamu di tambahi Allah. Rudi adalah sahabat di moeslem.

Esoknya kaki yang lecet dan perih bertambah deritanya. Jadi bengkak membiru. Nyeriiiiiii sekali. Duhhhh... udah tua kok ya masih suka lari2.
READ MORE - Lapar, Cape, Sakit

Minggu, 25 Januari 2009

Musim Hujan, Jangan Sakit Yaa

Musim hujan seperti sekarang kita mesti jaga diri. Siapkan mantel, payung, makan ga boleh telat, mandi jangan kemalaman, banyak minum air hangat, jangan rakus makan buah kalo-kalo ada ulat yang ga tampak, dll. Wah, dah mirip nenek-nenek aturannya. Soalnya pengalaman sebelumnya saya gampang jatuh sakit kalau musim hujan.Sebenarnya sih ga berat-berat amat, cuma masuk angin. Tapi namanya sakit siapapun pasti ga nyaman.

Masuk angin yang paling parah saya alami tepat setahun lalu. Di tengah malam tiba-tiba perut seperti di remas-remas. Bwahhh.. luar biasa sakitnya. terus muntah-muntah dan seluruh isi lambung keluar dari mulut dengan suara keras. Bluuurrrrr.. kamar yang baru saja di rehab tanpa ampun penuh sampah yang menjijikkan. Saya tak berdaya melangkahkan kaki karena badan sangat lemas dan sekeliling terasa dingin sekali. Tulang belulang dan otot-otot rasanya sudah lepas tak berbekas.

Setelah tak ada tempat bersih yang tersisa saya paksakan tubuh merangkak ke bawah, mencari tempat yang bersih di dapur. Tapi malah tergelepar di depan kamar mandi, sudah ga kuat lagi memindahkan badan. Rasanya sudah jadi cacing yang tak bertulang belakang. "Bapaaaaaak.........", panggil saya mencari pertolongan.

Bapak keluar dan terdengar beliau bilang,"Ooo... masuk angin". Ha??? sakit seberat ini dan rasanya dah mau mati cuma dibilang masuk angin? Adik keluar kamar mendengar kehebohan di luar dan mengajak saya ke rumah sakit. Bonceng motor pun sudah tak kuat. Bisa-bisa malah jatuh di jalan. Kalau naik becak, mana ada becak tengah malam di tengah kampung? Lagi pula kalau di rumah sakit pasti di coblos-coblos jarum. Tidak, lebih baik saya tidur di dapur dari pada tidur di bed rumah sakit yang sempit dan di suntik-suntik. Baru setelah dua hari saya periksa ke Puskesmas, tak perlu di coblos jarum suntik.

Sampai sekarang adik suka ngolok-olok, "Bapaaaaaaaaaakk" dan orang yang dengar pasti tertawa. Dah tua masih nyari bapaknya. Makanya jaga diri itu penting. Mudah sakit di musim hujan dan sakit sangat menyiksa. Makan yang banyak, minum susu (kalau ada), tidak hujan-hujan, tidur yang cukup biar tetap sehat.
READ MORE - Musim Hujan, Jangan Sakit Yaa