Rabu, 20 Januari 2010

Libur?

Suatu pagi di hari Jumat 15 januari 2010

masih belom ada jam 07 pagi, abang mampir ke rumah. Biasa, abis ngantar anaknya sekolah. lihat saya masih asyik ngopi. belom mandi, belom ada tanda2 mau berangkat kerja.

Abang : Libur, Tut?

Me : ya, libur terus (dongkol)

Asih : udah tau dia kalo masuk rada siang kok ya masih tanya. Dia tuh paling kesel kalo di tanya libur2.

Saya kan bukan pegawai, yg masuk kerja tinggal duduk manis. Secara di bengkel itu kalo mulai menginjakkan kaki di lokasi manggung , langsung deh kerjain ini itu, jalan ke sana sini. Belum lagi di tanya ini itu. Tetep harus ramah, manis, full senyum walo pas lagi rada sibuk.

Jadi kalo di rumah itu saya lebih banyak diam. Mengistirahatkan mulut dan pikiran. Kalo diam otak ini ikut istirahat. Hanya Asih dan bapak yang hafal tabiat tuti ini. Kalo lagi diam bukan berarti marah ato gak ada kerjaan. Tapi lagi gak ingin bicara saja. Mereka berdua ga pernah tanya2 kalo saya lagi diam saja.

Tapi si abang ini meski sudah berkali2 liat saya manyun tetep aja suka nanya ini itu. Mungkin maksud dia baek, ingin ngajak bicara. tapi adeknya ini kebalikan dia. Gak suka banyak bicara kalo lagi cape. Hehehehhe, tabiat manusia emang beda2. Itulah yg bikin dunia penuh keragaman. Seperti pelangi, tampak indah karena beda2 warnanya kan?
READ MORE - Libur?

Met Tahun Baru...

Tahun baru 2010 dah datang. Met tahun baru teman2... duuhh kasih ucapannya telat 21 hari nih. Pas tahun baru ini blog dudul ini genap berusia 1 tahun. Hanya ada 72 postingan. Itupun postingan ecek2, gak layak baca. Bisa2 yg baca malah sakit perut, flu dan gatal2. ga ada tulisan yg bermutu ato memberi motivasi. malah curhat ato bergossip. Jadi saya harus banyak minta maap ke teman2 yg sudah jadi obyek penderita di tulisan2 tuti.

Juga mohon maap pada teman2 yg gak mudeng ma catetan2 dudul ini. Kadang ga nyambung ya judul ma isi tulisannya. Maklum aja, penulisnya merangkap editornya kelas eksekutip kecoa alias acek2. Belajar otodidak, dengan miswar sbg layouternya, gratisan. Dan terima kasih yang buanyak sekali tentu saja pada semua teman2 yang udah menyempatkan waktunya buat ikut bertulalit ria.

Tahun baru...pasti semua punya harapan tiap tahun berganti. Berharap punya sesuatu yg baru, yg tahun kemaren belum bisa di dapatkan. Berharap melakukan hal terbaik, yg tahun lalu banyak melakukan kebodohan. Berharap bisa memanfaatkan waktu lebih baik, setelah tahun kemaren banyak membuang waktu sia2. Sabda Nabi kan orang yg beruntung itu yang hari ini lebih baek dari hari kemaren. (wihh, kok tuti tiba2 pinter ceramah ya...). Tapi itu sabda Nabi lhooo, bukan kata tuti.

Daripada berharap yg belom tentu bisa terwujud, lebih enak sih melakukan langsung aja. Do it, leave dream. Soalnya kalo mimpi2 tuh endingnya cuma dapat mimpi buruk, hehehhe. Mungkin aja emang ada orang yg mudah mimpi dan mudah mewujudkan. Tapi saya yakin tetep lebih banyak orang yang karena keseringan ga berhasil meraih mimpi, akhirnya ga suka mimpi. Untuk punya mimpi pun jadi takut. Ga masalah. Bukankah makan singkong beneran lebih enak daripada makan gambar kue keju?

Kata orang bijak : Manusia lahir untuk memanusiakan yg lain. Jadi berbuat apapun asal itu sebuah kebaikan menurut saya udah mulia sekali. Sukur2 kalo bisa bermanfaat buat orang lain. Manusia di hargai karena memberi kebaikan pada orang lain. Coba aja kalo kita masuk bank, toko, pasti petugasnya ramah2. Itu karena kedatangan kita di sana memberi manfaat buat mereka. Menambah pundi2 kas mereka.

Pengalaman kalo masuk rumah sakit. Mengapa rumah sakit swata lebih ramah pelayanannya ketimbang rumah sakit pemerintah? Duhhh ini ga menjelek2kan lhooo, tar di -prita-kan bisa berabe, hehhhehe. Di rs swasta itu servisnya cepet, susternya ramah2, dokternya juga baek2. Jadi pasien pun ga merasa rugi bayar mahal. Kalo di rs pemerintah prosedurnya luamaaaa, susternya galak2, dokternya juga sedikit ga ramah. Mungkin saja itu krn kalo di rs swasta harus mengongkosi biaya operasional sendiri. Jadi kalo ga ok servisnya bisa2 di tinggal kabur pasien. Sementara kalo di rs negara kan sudah pada jadi pns, jadi ga ada pasien pun tetep makmur.

Saya pernah nunggui paman sakit di rs X milik sebuah yayasan. Eh.. pagi2 istri paman ikut sakit, tiba2 asmanya kambuh. Saya panik, karena wajah bibi membiru dan napasnya terseok2. Suster2 langsung memberi kursi roda dan mengajak ke unit gawat darurat. Tanpa banyak instruksi mereka sigap memberi pertolongan ke bibi. Lalu bibi di suruh bed rest di ruang yg jauh dari paman biar suaminya itu ga tau kalo istrinya juga sakit. Terus di tangani oleh dokter spesialis paru2. Sembuh deh sakitnya. Berkat kebaikan suster2 itu bibi cepat tertolong.

Begitulah, kebaikan begitu berharga. Manusia jadi berharga saat ia bisa bisa memberi kebaikan pada sesama. Tuti sendiri? hahahha baru pinter berceloteh. Egoisnya...full sepanjang hari, sepanjang tahun. Kapan kamu mo baek ke sesama tuti?????
READ MORE - Met Tahun Baru...

Kamis, 31 Desember 2009

Hendak Sakitkah?

Siang yang mendung, kalo sore kadang2 hujan lebat. Beginilah kalo sudah masuk musim hujan. Walo awan gelap tampak menggantung di langit, tapi rasa gerah mengalahkan semua. Mendung tapi panas.

Dan di siang itu, tiba2 saya menghirup debu. Debu sialan, ia tertiup angin kencang, terhisap ke hidung tanpa sempat saya antisipasi. Debu2 itu terasa sekali masuk ke hidung dan tenggorokan. Walo tak terlihat tapi indra ini benar2 tajam untuk merasakan perjalanannya di organ pernapasan. Tinggal menunggu waktu, besok flu menyerang.

Begitulah, sudah takdir bila debu masuk ke tubuh makhluk hayati. Virus2 yang hidup subur di dalam debu segera pindah habitat. Menginvasi tenggorokan, menggelitik sampe gatal, lalu bikin orang bersin2, demam, pusing, pilek dan terakhir batuk.

Tanpa nunggu waktu, saya segera siapkan jurus menyambut kedatangan flu. Banyak2 minum dan tidur sore2. Selain itu juga makan mie mie hangat di tambahin satu biji cabe rawit. Konon, cabe kecil ini banyak vitamin C. Ia sanggup bikin orang jadi segar.

Oh ya, walo cuma mie, itu bukan buatan sendiri. Adek yg bikin. Tuti ga pernah masak karena hasil jerih payah saya berkutat di dapur tak ada yg doyan mengkonsumsi. Mubazir, terbuang percuma. Makanya teman2 tak pernah menjumpai cerita tuti masak di sini. Apalagi harga minyak tanah mahal. Kasihan kan sama ibu, kalo saya membuang2 emas cairnya. Pake gas katanya lebih murah dan cepet, tapi ibu takut kalo meledak.

(Pernah ding kemaren masak pas libur. Masak gule ayam. Ga tau rasanya gimana menurut orang, karena gak pake resep yang valid. Langkah pertama, beli ayam dolo di tempat yg terpercaya. Lemaknya dikit (ayam kurus kaleeeee), irisannya rapi, dan harganya ga pake nawar. Beli setengah kilo harganya 11 ribu. Terus beli bumbu gule yg udah jadi harganya 2500 perak. Terus beli santan instan di warung ibu seharga 1500 perak.

Di masak ga sampe sejam , uang senilai 15 ribu udah berubah jadi gule ayam sepanci. Cepat, hemat, lezat. Nurut saya lhoooo.. xixiiix membesarkan hati sendiri. Maklum, masaknya aja bergaya ala chef di tv. Serba instan).


Nah, selain makan mie anget, juga minum susu, juga air tomat. Waduh, rakus banget. Semua masuk perut. Semoga saja jurus2 ini bisa mencegah flu. Soalnya kalo sampe sakit harus di rasain sendiri. Hiiii...takuttttt
READ MORE - Hendak Sakitkah?

Minggu, 27 Desember 2009

Terima kasih

Senin, 28 desember 2009

Satu hal yang harus saya lakukan sebelum tutup tahun 2009 adalah mengucapkan terima kasih kepada banyak sahabat, kerabat, sodara, dan semua orang. Saat bapak mulai sakit thn 2005 yang lalu, betapa sakit bapak sudah menjadi tabungan akhirat bagi banyak orang. Bapak2, ibu2, teman2, menyempatkan diri di tengah kesibukan mereka untuk menengok bapak di rumah sakit. Sekembali di rumah pun tamu2 masih berdatangan untuk memberi dukungan bagi kesembuhan bapak. Betapa bapak di cintai banyak orang.

Doa banyak orang di ijabah Allah. Bapak sembuh setelah sakit yang cukup bahaya: hampir stroke. Di tangani dokter spesialis syaraf dengan obat2an yg lumayan mahal, masih juga ada fisioterapi. Di hibur juga oleh teman2nya yang lucu2. Allah memberi bonus usia hampir 5 tahun hingga akhirnya beliau di panggil menghadap.

setelah dua pekan bed rest di rumah sakit dan dua pekan istirahat di rumah, bapak kemballi beraktivitas. Bisa masuk kerja lagi dan main bola kesukaannya.


27 Maet 2006

Pagi2, gempa besar melanda Yogya. Rumah hancur dan rata dengan tanah. Saya dan Iqbal si keponakan jagoan serasa hampir tewas kerobohan material bangunan. Konyolnya, saat semua gelap dan susah bernafas, saya jadi teringat gempa Nias yang sering di tayangkan tv. Banyak orang hilang tertimbun bangunan. Hati pun khawatir, jangan2 nanti nyawa ini hanya tinggal nama. Duhhh ...ngerinya.

Setelah bisa keluar dari reruntuhan, ternyata badan ini masih utuh. Hanya lecet2 sedikit. Dan kepala ini langsung teringat bapak. Tadi beliau masih tidur. Habis sakit berat pula. Benar2 mengkhawatirkan. Bisakah belio menyelamatkan diri?
Ternyata beliau sudah berdiri di luar. Alhamdulillah, tadi bisa lari.

Dan yang terjebak bangunan runtuh justru...abang. Kami kaget saat dengar suara mengerang2 di antara tumpukan bongkahan bata2 bercor dan kayu. Muka abang pucat, tak bisa bergerak. Napasnya tersengal2. Leher ke bawah tertimpuk material berat yang malang melintang. Sulit untuk menarik mana dulu yang harus di singkirkan. Kayu2 besar dan bongkahan batu bata silang menyilang menutup badannya. Seperti orang kena hukuman rajam saja.

"Cepat....cepat..." teriak abang kesakitan. Tak ada yang kuat menarik bongkahan2 besar itu. Iqbal, anaknya hanya bisa meneteskan air mata melihat ayahnya tersiksa. Tak banyak yang bisa dilakukan bapak maupun saya. Lalu suami Asih datang. Dengan ototnya yang kuat, ia tarik kayu2 besar. Lalu orang2 berdatangan, membantu menarik bongkahan2 bekas rumah. Berhasil, abang selamat.

Yanto, suami Asih yang dulu saya sebelin itu malah menyelamatkan nyawa abang. Dan dia pula yang membereskan rumah yang hancur luluh lantak, mencarikan tas dan dompet saya yang tertimbun apa saja.

1 November 2009

Meninggalnya bapak.

@ November 2009

Pemakaman bapak. Terima kasih untuk semua sodara, kerabat, teman, tetangga, handai tolan. Teman2 kerja bapak di Universitas Cokroaminoto Yogyakarta, tetangga2 di kampung dan kampung2 sebelah yang sudah seperti sodara sendiri, teman2 main bola, kerabat bapak, kerabat ibu yang cakep2 dan cantik2 seperti artis, teman abang, teman tuti, teman adik, teman ipar, relasi dagang ibu, teman2 online di sultra, moeslem, halaqoh, teman2 pengajian, dan semuaaaa...banyak sekali.

Banyak sekali , mereka sudah memberi perhatian, mendoakan, menyolatkan, memberi batuan apa saja baik moril maupun materiil. Membuat kami tetap tegak berdiri walo hati sedang gundah di tinggalkan orang tua yang sangat di sayangi.

Beribu2 terima kasih kami ucapkan. Semoga Allah membalas amal kabaikan panjenengan semua. Aamien ya Robbal Alamin
READ MORE - Terima kasih

Jumat, 11 Desember 2009

Temani Ibu

Sabtu, 12 Desember 2000

Sebulan lewat , saya menemani ibu tiap malam. Berlaku pula jam malam. Tidur lebih awal dari biasanya. Jam delapan malem, habis isya' teng, harus sudah siap setor muka. Kalo belum nampak, ibu akan nyari sampe ketemu anaknya nomor 3 ini. Maklum, di mata belio tuti ini kurang bisa di percaya loyalitasnya.

Sudah saya bilangin nanti anaknya ini pasti hadir menemani, tapi tetap saja tak percaya. Kadang2 asih dan suaminya kasihan ma saya, lalu mereka nonton tv dulu sama ibu. Sementara saya main dulu ato bersibuk2 di sarang, nyiapin keperluan kerja ato yg lain.

Kalo tak sabar, belio bisa teriak2 nyari saya. Duuhhh suaranya kenceng banget, ampe kek ada ribut2 besar. Maklum aja, belio maksa, saya bersikeras bilang tar lagi ...tar lagi... Dua2nya mo menang semua deh, ga ada yg mo ngalah.

Akhirnya belio pake jurus ngancam mo tidur di atas segala kalo saya tak cepat2 turun. Weks, tentu saja tak mungkin. Di atas angin gencar menyerang. Dinginnya minta ampun. Bisa2 ortu masuk angin deh. Kalo sudah ngancam gitu, nyerah deh anaknya yg bandel ini. Dan..... cepet2 ninggalin semua kesibukan.

Gerak saya bener2 terbatas kalo malem. Cuma kebanyakan tidur saja. (Untung saja ada sahabat, shine yg bisa di ganggu via hp2an. Thanks ya shine.... dah jadi sahabat terbaik). Mo ke warnet juga takut. Ga ada bapak yg jagain lagi. Pernah ke warnet, pulang jam 21.30. Rasanya dah malem banget (padahal semasih ada bapak, pulang jam 23.00 pun biasa aja, serasa ga punya dosa).

Malem itu pas ngayuh sepeda, di belakang tiba2 ada suara motor mengurangi kecepatan, hendak berhenti. Wuihhhhh .... dah ke ge er an aja, jangan2 dia mau nyergap. Langsung saja kaki ini ngayuh sepeda sekuat tenaga. Ngebut dengan sepeda kumbang, hicks narsis. Padahal motor tadi hanya mau belok.

Baru lega setelah nyampe di depan kantor kecamatan terlihat keramaian. Ada pentas musik dengan banyak penonton. Tapi setelah 10 meter tampak warung pecel lele sudah tutup. Hiiiiiiii...... sepi. Masuk gang... makin sepi. Toko dan warung2 sudah pada tutup. Semua orang sudah istirahat di dalam rumah. Saya malah lagi asyik2nya sepeda2an.

Hicks, rasanya jadi malu sama pemuda yang pada nongkrong di tepi jalan. Dulu bisa saja mereka tidak ngatain yg jelek karena sungkan sama bapak. Tapi sekarang... bisa saja saya di cap cewek tukang keluyuran malam. Ato malah bisa2 di tegor langsung sama pejabat keamanan.

Pernah juga setelah bapak tiada ini saya nekat main ke warnet terdekat. Pulang jam 22.30. Apa yg terjadi? Rumah masih terang benderang. Ibu yang buakin pintu saat dengar salam. Padahal ga di kunci tuh pintu. Tentu saja hati ini kaget. Kok masih melek belio. Wihhh jadi merasa bersalah banget.

Ibu tuh ga biasa tidur larut malam. Katanya sih, kalo tidur sore nanti bisa bangun subuh. Kalo kemaleman malah ga bisa tidur2 lagi. Duuhhh ibu nih kok jadi kek bapak. Gak segera tidur sebelum memastikan anaknya pulang dengan selamat. Ya udah, demi ibu jadilah tuti ini anak yg penurut. Harus ngurangi kelayapan malam.

Taukah Anda apa efek tidur sore2 di tempat yang tidak biasanya? Badan ini malah sakit semua. Pegal2 karena tidak senyaman di tempat sendiri. Apalagi belakangan ini saya lagi tergila2 nyoba beberapa gaya push up yg di ajarkan majalah wanita.

Selain push up konvensional ternyata juga ada wall push up. Yaitu push up berdiri dengan tangan bertumpu di tembok. Keliatannya mudah, ternyata berat juga. Belom lagi angkat2 dumbel. Soalnya di majalah itu juga ada trik meratakan perut. Cewek mana yg tigak tergoda nyoba. Keringetan dan pegel tapi seneng.

Jadilah persendian bahu rasanya pegel semua. Betis juga membiru seperti kena varises. Pembuluh2 darahnya pada keliatan, hiiiii.... Leher juga kaku. Tapi terbayar dengan hasil yang sedikit maknyus. Badan jadi ringan. Kalo jalan rasanya ga cepet cape.

Akhirnya libur tiba. Cihuyyyyyy.... senengnya...kek dapet rejeki nomplok. Bisa jalan2 ke warnet nih pas siang hari. Bisa omong2 ma teman2 dari berbagai pelosok. (Kalo mo berbagai benua kok berlebihan, wong ga mahir basa bule).

Met liburan tuti...hehehhe. Tapi jangan seneng dolo, tar malem ada tugas tuh nemani ibu. Moga2 aja keponakan pada sering2 nginep di rumah. Jadi bisa gantian yang di sandera, hehehhehe
READ MORE - Temani Ibu

Kamis, 12 November 2009

Marry With Whom?

Kamis, 5 November 2009

Pada akhirnya sifat manja dan banyak bergantung pada orang tua harus di akhiri. Ayah sudah berpulang. Ibu harus di hibur agar tak mikirin bapak terus. Kakak dan adik sudah pada sibuk dengan kegiatan masing2. Dan saya.... tiba2 di sodori seorang lelaki yang serius ingin menikah. Glekkkkkk !!!! sangat mengejutkan, tiba2 orang itu hadir di rumah senin sore, saat pemakaman ayah usai.

Anak panah yang biasanya teronggok di dalam bilah bambu, ke mana2 selalu ngikut si empunya. Menempel erat di punggung pemburu. Kini saatnya di pasang di busur, siap di lesatkan. Dan kalo sudah melesat jauh, terlepas dari tangan pemburu, takkan bisa tau lagi nasibnya. Tak ada lagi tempat bermanja2 dan bersenang2.

Haruskah ia di terima?

Pada dasarnya tuti ini belom pengin munakahat. Ada bberapa target yg belum tercapai (beughhhhhh... ambisius banget). Kalo ketemu yang mau ngedukung sih oke aja. Tapi mas ini ternyata bertolak belakang. Tentu tak perlu di beberkan apa sisi plus dan minusnya. Toh saya pun bisa shock kalo yang jelek2 di sebar ke massa, hehehehe (lagi bisa ngaca).

Selain itu tiba2 saja si mas ini ngajak saya ke tempat wisata buat ngobrol. Ha????? Ngapain wisata berdua. Wisata mah rame2. Kalo ngobrol, di telfon juga bisa. Iklan operator aja bisa ngobrol ampe kering cuuma seribu perak. Trus dia juga ngajak saya di akhir bulan ini pulang ke kampungnya di jawa barat sana. Mo di kenalin ke ortunya. Whattttt????? Nih orang nekat aja. Barusan aja kenal, lom ngerti a- b - c -d nya, tau2 sudah mo di kenalin ke ortunya, ke luar kota lagi.

Langsung deh saya tersinggung berat. Apa kata dunia, tuti nginep di rumah lelaki yang bukan sodaranya.

Tanpa nunggu waktu lama, saya cut niat dia pdkt. Padahal seorang sohib berkali2 nyuruh sholat istikharoh dulu. Belum sempat menjalankan nasehatnya, mas itu keburu menyebalkan. Tak usah bertele2 dan muter2 : "Kita berteman saja. Mas cari kenalan lain. Tuti gak bisa diharapkan". Singkat , tegas, dan semua orang ngerti maknanya.

Dia shock tampaknya (walahhhh.. ge er amat tut). Dia nulis pesan pendek berkali2 tapi tidak saya hiraukan. Untuk ngusir jenuh setelah terus menerus di bombardir mas itu, saya pun ke warnet. Ngobrol ma sahabat2 yang asyik. Juga baca email2 yang lama gak kebuka. Lumayan juga otak kembali segar, walo pulangnya rada dag dig dug karena tau2 dah malam.

Balek ke rumah, di hp tertulis : 6 panggilan tak terjawab. Juga ada gambar amplop, pesan masuk. Terussssssssss aja si mas ini gak bosan hape2an meski di cuekin. Banyak pulsa kaleeee.... Dan karena jari dah cape mencet2 keyboard warnet, tanpa pedulikan hape lagi saya pun langsung tidur.


Paginya sebuah ide gila muncul. Saya edit pesan2 gombal dari 'cinta fitri'. Dengan sedikit touch up saya kirim ke mas itu. Pura2 saja punya kekasih biar tampak laku:

"Dukung mas ya, supaya kita dapat rahmat. Makasih untuk pengertiannya. Soal perasaan, jangan tanya, kita sama2 tau -----> itu dari akhy tuti"

Weks, tampak romantis kan? Tapi ekornya pedas. Manjur sekali, dia gak telpon2 lagi. Pesan2 pendek dari dia masih, tapi tak sesering maren lagi.

Malemnya saya cari2 lagi 'cinta fitri old season'. Hanya itu senjata pamungkas yang saya miliki untuk menghindar dari 'calon pengantin'. Habis dia itu adeknya teman bos. Jadi harus tetep sopan agar hubungan saya dengan bos maupun temannya tetap bae. Sama atasan sih, jadi ya rada takut juga gimana nih cara nolaknya.

Hmmmmmm.. maafin tuti. Tuti lom pengin berkeluarga, lagian gak ada rasa sama dia.

Jadi inget nih sama novel " Eat Pray Love" . Kisah nyata seorang perempuan bernama Elizabeth Gilbert. Ia gak ingin punya anak, sementara suaminya ngebet punya anak. Ia frustasi karena mengecewakan suami, keluarga dan anak yang tak akan pernah dilahirkannya. Untuk lari dari masalahnya Gilbert lalu jalan2 ke Itali untuk nyari kesenangan duniawi (eat). Terus ke India untuk nyari ketenangan batin dengan yoga (pray). Akhirnya ke Indonesia, tepatnya Bali dan di sini menemukan titik tengah antara duniawi dan batiniah yaitu love.

Filmnya lagi di bikin. Pemeran utamanya....my favorit actrees : Julia Robert. Besok kudu liat filmya nih. Bagus sekali ceritanya. Deskripsi dan dramatisasinya gak kalah sama penulis top indonesia punya: Putu Wijaya. Itu cerita kok gue banget....
READ MORE - Marry With Whom?

Selasa, 10 November 2009

The Hero Has Gone

Ahad, 1 November 2009

Bapak, ayah yang telah menghidupi dan melindungi kami, 5 bocah ini, telah menghadap sang Khalik. Pas hari Ahad, 1 November 2009 jam 21.20 Wib. Dulu memang 5 bocah saat kami kecil dan hidup dalam kesusahan. Banyak orang susah, bahkan lebih susah , tapi hidup keluarga kami bagi orang lain sering di anggap aneh. Tapi Allah maha besar, kalo bisa melampaaui ujian - Nya maka hadiah yang di berikan Allah akan jauh lebih besar. Terbukti, kelima anak ini pada sehat wal afiat. Dulu 5 bocah, sekarang 5 orang dewasa. Alhamdulillah...

Mencari pahlawan tak usah jauh2. Setiap ayah sudah jadi pahlawan bagi anak2nya. Bukankah mereka sudah berjuang agar anak2nya tak kelaparan, bisa sekolah dan menjalani hidup secara manusiawi. Dan itu tentu bukan pekerjaan ringan. Apalagi kalo anaknya hampir setengah lusin kek kami.

Berawal dari sms asih. Baru setengah empat sore waktu itu. Ahad, 1 November 2009. Ia nyuruh saya: "cepat2 berkemas karena abang sulung sudah berangkat menjemput. Tadi bapak jatuh, gantian yg nunggu".

Belum selesai kemas2, abang sulung sudah mejeng di depan bengkel. Teman2 pun keknya sudah pada pengin pulang. Langsung deh tutup bengkel.

Sampe rumah terlihat ruang tamu bersih dan lapang. Dipan yg biasanya di umpetin sudah dipake bapak duduk. Di alasi kasur dan sprei cantik. Kalo sakit bapak memang tidurnya pindah di depan biar gampang di awasi. Bapak duduk sendiri menikmati sore. tak tampak kalo sakit yg mengkhawatirkan. Hanya semalam bapak emang habis periksa dokter. Tes ecg untuk liat kondisi jantung. Dan hari Senin besoknya jadwal saya nganter bapak tes darah dan paru2.

Ia kecapekan setelah perjalan jauh yang cukup melelahkan di usia yg sudah senja. kamis pagi maren baru nyampe rumah setelah dua minggu tinggal di Bali. Nengok cucunya yang baru : Muhammad Zakki. Anaknya Nia. Nia ini anak bapak nomor 4, adek tuti pas, kakanya Asih. Dulu Pas lahirin anak pertamanya si Nia : Asa, bapak juga nungguin. Bapak emang sayangggggggggggggg banget ma anak2nya. Hehehe.. itu makanya kami lebih deket ke bapak .

Mata kiri bapak tampak biru lebam. kek petinju habis kena jotos lawan.

Me : Jatuhnya di mana pak?

Bpk : Tadi tiduran di kursi, jatuh di lantai.

Me : Lha kok sampe lebam matanya, tadi tuh mimpi apa?

Bpk : Mimpi sholat, tau2 kok sudah di gotong Yanto dan ibumu.

Me : Ooohhh pantes mata lebam. Jadi tadi tuh berdiri, sholat gak sadar. Tentu saja jatuh dan mata duluan yg kena.

Lalu paman dan bibi pun pada berdatangan. Maghrib, bapak muntah. Cepat2 manggil taksi dan belio di bawa ke rs pku muhammadiyah.

Jam 21.10 saya ke rumah paman. Asih sms nyuruh paman cepet2 ke rs. Balek ke rumah sudah ada berita bapak meninggal. Innalillahi Wainna ilayhi rojiun...

Tetangga berdatangan. Sebagian menghibur ibu, sebagian kerja bakti mengatur rumah. Saya jongkok di tepi dapur, sendirian, menghadap sumur. Nangis sesenggukan. Nyesel sekali tadi belum sempat salaman pas bapak berangkat ke rs. Tapi ajal...siapa bisa tau datangnya.

Saya ingin ketemu bapak. Di tengah kesibukan dan sembab air, mata saya ajak abang ke rs. Tapi ia tampak keberatan. Sebagai anak laki2 tentu ia gak enak bila di rumah banyak orang ia malah pergi.

Abg : ga ada motor

Me : Tapi saya mo ketemu bapak

Akhirnya dengan motor pinjaman kami ke rs. Tanpa jaket, udara dingin sekali dan jalanan sudah sepi, menembus malam. Melihat wajah ayah sesaat sebelum belio di mandiin petugas dan paman.

Istri abang yg nungguin bapak cerita .....

Tadi sesaat sebelum wafat, bapak tiba2 terbangun dari tidur. (Padahal badannya sudah lemah. Pas mo muntah yang terakhir di rs saja tadi harus di bantuin bangun).

Grobyakkkkk... bapak bangun dengan kaget.

Bpk : kau bawa ke mana aku ini Tini? (Padahal bpk barusan tanya jawab ma dokter)

Kk : Di rs pak, cari obat.

Bpk : Tidak. Ini bukan rs. Rs kok terang benderang gini. Luas sekali dan putih semua.

kk : Subhanalloh, Bapakkkkk..... (Kk baru ngeh bapak sudah deket alam lain)

Bapak tidur lagi. sesak napas, dikasih perawat oksigen. Dikipasin juga biar gerahnya berkurang. Di tuntun Asih tahlil, tahmid, takbir. Allah... Allah....

Akhirnya...lesssss...Bapak wafat. Dokter datang, menyenter bola mata bapak dan berucap: Innalillahi wainna ilayhi rojiun...

Pukul 21.20 bapak berpulang.

Bapak... maafin tuti anakmu ini...

baru saya sadari... jadi bau harum misterius yang munsul tengah malam sebulam lalu itu adalah bau harumnya malaikat Izrael yang tengah mendatangi bapak.

Semoga dosa2 bapak di ampuni Allah, amal kebaikannya di terima Allah. dan anak2nya bisa mewarisi kesabarannnya. AAmien...

(Sejak bapak meninggal tuti ini jarang2 ke warnet malam2. Sudah gak ada yg ngawasin lagi. Gak ada juga yg bukain pintu di rumah. Ibu pun selalu melarang anaknya ini pergi malam2. Dan kalo denger cerita mimpi bapak jadi tau deh : bahwa alam akhirat itu beneran ada dan ......luas sekali. Hanya amal kebaikan yang akan kita bawa ke sana kelak )
READ MORE - The Hero Has Gone

Jumat, 16 Oktober 2009

NyeseLLLLLLLLLLLL

Berteman sama M adalah penyesalan terbesar dalam hidup tahun ini. Mau2nya telpon2an sama dia, bercakap2 tiada henti. Pagi, siang, sore, malam. Tak ada manfaatnya. Hanya buang2 waktu dan pulsa. Yang di dapat hanya sakit hati plus malu sdama teman2.

Ia seperti balon. Tampak warna-warni, indah dan menarik. Ilmu agamanya luas, ngaji murottalnya bagus, kepeduliannya ok. Tapi itu hanya kamuflase buat ngancurin orang.

Untung saja saya ga pernah nuruti omongan dia untuk upload poto di blog ini. Sudah kommit pada diri sendiri bahwa wajah ini bukan untuk di pajang2 di layar publik. Untuk liat poto orang pun saya tak tertarik. Maklum aja tiap hari yg di lihat orang cakep dan wangi. Sudah bosan lihat wajah orang. Wajah toh tidak identik dengan tabiat seseorang. Banyak orang berwajah menarik ternyata korup. Banyak juga yg berwajah jelek tapi hatinya bak mutiara. Jadi bagi saya apalah artinya sebuah poto.

Kembali ke tema ...xixixixi

Saat balon2 itu sudah membumbung tinggi, tiba2 tertusuk jarum. Meletus. Suaranya bikin jantung rontok. Ledakannya mengoyak telinga dan hati. Serpihannya mengotori tanah. Tak ada lagi keindahan yg bisa di pamerkan.

Saya benci M. Ia bukan muslim yg baik. "Seorang muslim adalah jika orang lain selamat dari gangguan lidahnya" ---> Hadist Riwayat Ibnu Majah & Hakim.

Ia sudah menipu dan mencelakai saya.

Baiklah, lupakan saja M. Anggap saja ia sudah mati. Sudah berkalang tanah bersama batu nisan di atasnya. Ada ato tidak, saya tak perlu lagi peduli dengan keberadaannya.

Dalam rubrik konsul jiwa di koran, DR Inu bilang kalo mo maafin orang itu anggap saja dia punya hutang sama kita. Kita relakan saja hutang itu tak terbayar. Biar aman kita sobek saja surat hutangnya. Jadi tak ada lagi yang perlu di ingat2.

Ooooohhh... benar sekali dr Inu. Semua harus di buang jauh ke laut. Ga ada lagi alasan buat inget2 kedudulan M. Mo matek apa hidup, ga urusan.
READ MORE - NyeseLLLLLLLLLLLL

Rabu, 30 September 2009

Bau Misterius

Siang setelah pemakaman Slamet...

Ke rumah mas Sigit, ambil pesanan kartu servis. Sudah janji ma mas Sigit kalo cetakan mau tak ambil sendiri, tak usah di antar. Dan dua hari lalu mas Sigit beneran ngasih tau kalo pesanan sudah jadi, bisa di ambil. Tapi mau ambil ada2 saja halangan untuk ke Ngasem, rumah beliau.

Di gang, papasan mbak P yang habis melayat Slamet. Dia mo pulang ke Klaten. Rasa hati ingin nganter dia sampe terminal. Tapi kalo inget Slamet , wah, takut juga resiko boncengin orang. Jadi dia saya biarkan jalan kaki sendirian. Pasti lumayan manyun nunggu bus di tepi jalan.

Sebelum ke percetakan, mampir beli pulsa dulu. Anak bos sms minta di beliin pulsa.

Tengah Malam....

Dalam tidur hidung saya mencium bau kembang. Wangiiiiiiiii....sekali. Seolah papasan dengan seseoang yang mengguyur badannya dengan segalon parfum ato air kembang. Terkejut bukan main. Mata pun cepat2 melek. Gelap. (Kalo tidur suka gelap biar lelap, juga hemat energi seperti iklan pln).

Bau wangi itu masih menyengat, memenuhi rongga2 hidung, menusuk tajam banget. Hmmmm.. tumben sekali ada bau aneh kek gini. Lalu kepala pun mencoba inget2 di mana saya berada. Dikamar, sendiri. Baru kali ini di kamar saya nyium bau wangi kembang yg sangat tajam.

Biasanya di tengah malam yg saya tangkap adalah bau tembako kakek sebelah. Dulu saya pun kaget luar biasa di kegelapan ada aroma asap jelek itu. Seolah ada lelaki merokok ngintip tidur saya. Habis aromanya ga hilang2 dan terasa dekat sekali. Setelah di inget2 baru sadar kalo di sebelah adalah rumah kakek perokok itu. Baunya khas sekali, apek, ga ada duanya (maaf ya kek). Lama sekali baru ngeh kalo sarang ini di atas. Jadi tak mungkin ada orang merokok ngintip tidur. Kalopun ada mestinya susah2 pake tangga segala.

Nah, malam ini pun begitu. Cukup lama membuka memori, bau wangi siapa ini. Apakah parfum di kotak make up tumpah. Tapi sudah lama botol parfum tinggal setetes, belum beli lagi (Lebaran ini sengaja ga nginjak lantai toko, ga shopping2, biar ga jadi korban vakum cleaner konglomerat).Jadi gak mungkin kalo sumbernya dari botol parfum.

Adakah saya papasan dengan orang wangi? Tapi ini sedang tidur, jadi tak mungkin papasan, kek di jalan aja. Ato: adakah tetangga yg mo kondangan? Lalu tengok hape, jam 24.00 wib. Subhanalloh...baru jam 12 malem, kok sepertinya sudah larut sekali. Tapi mana ada orang kondangan jam 12 malem.

Bau wangi itu menusuk2 hidung memenuhi muka saya. Belum puas, aromanya melayang2 di udara. Cukup lama mempermainkan kebimbangan hati, mencari2 kambing hitam siapa penyebar aroma wangi yg datang tiba2. Dan ia dengan setia menemani (dan mengganggu juga) istirahat saya.

Lama sekali bau wangi itu baru hilang. Saya pun nerusin tidur yang kepotong iklan kembang mayat. Itu lho, kembang putih yang biasa di pake dalam acara kematian orang kristiani dan orang2 kaya. Ibu menamakan kembang sedap malam. Saya menamakan kembang mayat.

Lagi2 di tengah tidur termin 2 bau kembang itu muncul lagi. Nyusss, merinding nyium baunya. Tapi tak berapa lama trus berkurang wanginya. Saya bangun lagi. Masih wangi, tapi tak setajam yg pertama. Takutttttt.... Nyata ga sih ini? Ambil hp, kirim sms ke Asih : "Ada bau wangi 2 kali di kamar". Biar kalo ada apa2 asih tau.

Setengah takut, sambil berdoa lanjutin tidur. Bau siapa itu yaaa...wangi banget. Entahlah.
READ MORE - Bau Misterius

Sabtu, 26 September 2009

Kematian

23 September 2009

Sore,Hari ke 4 lebaran 1430 H. Sodara2 dari Solo pamit pulang. Beruntung saya cuma dua jam di warnet. Pas nyampe di rumah ternyata para sepupu itu sedang bersalam2an dengan Bapak, Ibu, Bibi dan Kakak. Dua malem mereka nginep di Yogya, sungkeman sekaligus jalan2.

Hicks, rada malu juga sih. Jarang nemui mereka, malah ngelayap sendiri. Sekarang ketemu lagi malah pas mereka pada mo pulang. Habis saya gak pinter ngomong sih. Rada canggung juga kalo mo ngobrol2. Kalo di warnet kan ga perlu banyak bicara, hehehe.

Tapi ngomong2 mana nih si Asih ma suaminya? Ini nih anak ortu yg paling supel dan ramah. Dari ke 5 anak bapak, hanya si bungsu ini yg pintar nyambut tamu. Mengajak ngobrol, hangat, membuat tamu kerasan dan semua jadi akrab.

Waktu para tamu sudah 'take off', baru ketauan kalo Asih dan suaminya ternyata pergi ke rumah sakit. Slamet, anak remaja yg rumahnya persis berhadapan dengan rumah kami itu ngalami kecelakaan lalu lintas. Sampe malam kami nunggu Asih pulang dan kabar Slamet. Di pesan pendek jam 18.00 petang, suami Asih ngabarin kalo Slamet masih kritis dan belum siuman.

Pukul 21.00 Asih bilang kalo kondisi Slamet makin menurun, riskan kalo dipindah2 (maunya sih ke rumah sakit yg lebih lengkap fasilitasnya). Gegar otak berat, darah keluar terus dari telinga.

Pukul 22.00 cape nunggu Asih, tidur.

24 September 2009. Pagi....

Orang2 sekampung pergi ke rumah sakit, nengok Slamet. Mbak T, koordinator `touring` datang ke rumah nanyain kepastian tempat: RSU ato RS PKU. Biar valid saya pun pertemukan mbak T dengan istri abang yg lebih tau. Eh, ternyata istri abang ikut sekalian. Ya udah, saya di rumah gigit jari. Asih ma suaminya juga gak ikut. Kecapekan karena baru pulang jam 24.00.

Bus rombongan pasti penuh. Banyak juga yg pake motor sendiri. Tapi kalo mo ikut rombongan motor kok takut ya. Ga pernah berani nekat nyetir ke luar kota. Buka_lowongan_sopir_gratis.com (hoek, hoek, hoek, narsis abis).

Siang, jam 11.30

Mbah C tampak lagi sibuk jahit menjahit. Dari jendela tampak beliau asyik menjahit sambil berbincang2 sama adeknya. Rukun ya, hehehe

Jam 12. 00 ada pesan masuk di hp Asih : Slamet meninggal. Asih ke rumah bu Hesti, nangis. Asih nih cengeng banget. Dulu pas paman wafat pun dia nangis kenceng di rumah sakit.

Lalu Asih ma Bu Hesti di temani bapak2 masuk ke rumah mbah C, ngasih tau kalo cucunya meninggal. Berita meninggalnya Slamet dengan cepat nyebar ke seantero kampung. Lalu sekompi pasukan sukarelawan pun datang . Bapak2 dan Ibu2 yg tidak ikut ke Rumah Sakit membanjiri rumah mbah C. Bergotong royong bersihin rumah dan halaman. Dalam sekejap rumah pun bersih mengkilap, lapang gilar2. Lalu pasang tenda, kursi2 dan lampu2. Inilah kampung, saling membantu dalam suka dan duka. Semua terlibat. Yang tidak sempat ke rumah sakit, tidak sempat membantu gotong royong, datang untuk menghibur keluarga almarhum.

Jumat, 25 September 2009

Upacara pemakaman. Tokoh kampung yang menjadi wakil keluarga berpidato . Bagus sekali isi ceramahnya: `Kematian Slamet ini menjadi pelajaran kita semua. Bahwa kematian bisa datang kapan saja. Tidak mesti urut tua. Bisa umur berapa saja. Tak peduli juga apakah ia sakit ato sehat, tua ato muda. Maka bersiaplah untuk mati`. Siapin bekal tentunya.

Mbah C berkisah: biasanya Slamet ini tak pernah sungkeman kalo lebaran. Tapi kemaren, lbaran 1430 ini Slamet ngajak salaman simbahnya. Slamet minta maaf sambil nangis. Lalu pake nyium2 mbah C segala. Mbah C pun ikut nangis waktu Slamet sungkem. Ternyata ini sungkeman yg kek pamitan.

Yuli yang boncengin Slamet pun cerita kalo sebelum peristiwa naas itu Slamet berteriak takbir 3 kali. Allahu Akbar!, Allahu Akbar!, Allahu Akbar!. Lalu motor di depan Yuli tiba2 belok kanan tanpa lampu sein/ retting. Yuli ngerem mendadak. Dan Slamet mental dari motor, terlempar meloncati motor (kek salto kali) ke depan, helmnya lepas sebelum tubuhnya nyentuh aspal.

Subhanalloh...ini seperti lakon yang sudah di tulis skenarionya oleh Allah. Slamet kok seperti melihat `sesuatu` yang hanya dia saja yg tau. Apakah yg dia lihat itu begitu mengerikan hingga ia spontan berucap takbir? Wallohua'lam. Hanya Allah yg tau. Itulah rahasia Yaang Kuasa.
READ MORE - Kematian

Minggu, 20 September 2009

Takbir Itu Padamkan Api

Sembilan hari terakhir jelang ramadhan berakhir...

Saat ramadhan hendak menuju puncak kesempurnaan....

Saat dua puluh hari perjuangan berat telah dilewati...

Orang yang sungguh2 puasa pasti menginginkan bisa beribadah lebih khusyu' lagi di sembilan ato sepuluh hari terakhir itu. Di sana ada malam Lailatul Qodr : malam kemuliaan yang nilai pahalanya lebih besar dari pada beribadah selama seribu bulan (sepadan dengan 83 tahun ato seumur hidup manusia). Disana juga ada hari pembebasan dari api neraka bagi yang menyempurnakan puasa sampai hari terakhir.Mungkin hanya orang2 tertentu saja yang bisa meraih hadiah Allah itu.

Menahan haus dan lapar itu berat. Tapi batasnya jelas. Tenggorokan yang kering dan perut yang kosong merintih2 ingin diisi itu letaknya di dalam. Sementara mulut tempat pintu masuk makanan itu letaknya diluar. Nah, remnya diluar kan. Jadi bila ingin makan ato minum tinggal bungkam mulut. Orang lain pun bisa mengingatkan bila kita lupa makan / minum

Tapi menahan omongan itu tantangan besar. Ini masalah hati. Amarah yang meledak2, mata yang selalu awas pada kutu di lautan, telinga yg selalu ingin mendengar berita buruk. Semua dengan mudah mengoyak mulut yang sudah di bungkam. Mulut pun ember ke mana2. Nafsu rohaniah itu remnya ada di dalam ( hati). Hanya diri sendiri yang bisa mengendalikan.

Luluskah puasa saya kemaren? Ramadhan 1430 H. Sepertinya tidak. Wallohua'lam. Di sembilan hari terakhir saya malah dapat berita buruk. Jeleknya, rem di dalam hati blong. Pasrah di bawa setan yang lolos dari kerangkeng neraka (Katanya kalo bulan puasa setan pada di kerangkeng ya).

M yang sudah saya anggap sodara sendiri, saya percayai 1000 % omongannya ternyata bohong. Saya pun ngamuk. Istrinya yang tak bersalah pun ikut saya takut2in.

Di mata saya kelewatan sekali cara dia berbohong. Orang boleh saja becanda, berbohong sedikit buat sekedar lucu2an. Tapi kenapa ia mesti berbohong dgn berlindung di balik ayat2 Allah dan sunnah Rasul. Ini yg saya gak terima, agama buat main2.

Lebih dongkol lagi saat ia mengakui kebohongannya. Lagi2 ia pake asma Allah

M : Qodarollah. Ini sudah kehendak Allah

Beughhhhh!!!!! Kemarahan saya pun makin membuncah. Allah dijadikan topeng.

Ia minta maaf. Tentu saja bukan hal yang enteng untuk memaafkan penipu kelas berat. Sudah menipu manusia masih juga pake nama Allah. Saya ngamuk. Puasa yang suci ini bukannya di isi dgn baca Quran ato dzikir. Malah di nodai dengan umpatan2 dan perang kata2.

Semalam kami adu mulut via pesan pendek. Baru berhenti saat saya ingat ada UU ITE yang bisa menghukum orang. Sms pun bisa jadi bukti tindakan pelanggaran hukum. Tetap belum puas, paginya habis subuhan saya mulai lagi perang sessi 2. Saya buka dengan ucapan "La'natulloh wa malaikatihi...". Pagi2 sudah buka puasa dengan pertengkaran. Berhentinya setelah ingat harus masuk kerja. Sudah jam 07.00 wib.

Malam selanjutnya...

Saya gak tau apa yang ada dalam hatinya. Merasa menang ato apa. Tiba2 telpon berdering. "M memanggil" ,gitu pesan di layar.

M : Assalamualaykum

Me: Waalaykumsalam

M : Lagi apa?

Me: Lagi nangis

M : Bla...bla...bla...(minta maaf & ngasih penjelasan)

Me: Udah ?

M : Gini...gini...

Me: Udah ?

M : Udah. Assalamualaykum

Saya sudah malas dengar suara M. Pintar mencari pembenaran. Tapi habis taraweh bendera perang saya kibarkan lagi di pesan pendek. Benar2 tak ada maaf. Lagi2 ia membalas dengan permintaan maaf yang panjang lebar.

Istrinya juga minta maaf, tapi saya cuekin. Malah saya resend pesan2 pendek dari suaminya. Biar nyonya itu dongkol. Ada bukti otentik siapa yang mulai bikin onar. Bahkan sempat saya olok2 : selamat ganti kartu mbak. Tega bener tuti ini nyakitin sesama.

Berhari2 saya sedih, nangis, tapi menang dengan sikap arogan ini. Bak artis di infotainment kesandung batu, saya pun ngadu ke teman2. Untunglah mereka baik2, memberi saran yang positif dan melarang saya nyebar kejelekan orang. Shine, makrus, tangkil... u're the best.

Akhir ramadhan takbir berkumandang di penjuru langit. Allohu Akbar... Allohu Akbar... Di barisan jamaah sholat maghrib itu air mata menetes di pipi. Ingat dosa2 yang banyak sekali. Juga kesombongan yang sangat tak pantas dihadapan Allah. Ada Alloh yang Maha Besar mengawasi semua makhluk ciptaan-Nya. Orang2 di seluruh dunia memuji kebesaran-Nya. Sementara saya malah berkubang dalam kesombongan dan kehinaan.

Pulang dari masjid cepat2 saya kirim pesan pendek ke istri M. Minta maaf. Ia balas minta maaf juga. Malah pake mendoakan yang baik2 juga (tulus ato ngejek bu'? )

Gema takbir itu meluluhkan kekerasan hati tuti. Memadamkan api yang sempat berkobar- panasnya membara- menyulut dendam dan amarah berhari2. Terimakasih ya Allah ... masih Engkau beri hamba-Mu kesempatan bertaubat.
READ MORE - Takbir Itu Padamkan Api

Rabu, 09 September 2009

Jalan Hidup

Kata Makrus, sahabat asal Semarang yang sekarang jadi area manager produk minuman "pocari sweat" di propinsi Aceh, hidup saya menyenangkan. Hahahahaha..... Ada-ada saja sahabat muda ini. Begitulah manusia, selalu melihat orang lain lebih bahagia daripada diri sendiri. Saya pun begitu, kalo lagi capek dan sumpek, rasanya melihat orang gak kerja kok sepertinya nyaman sekali. Bisa tidur sepuasnya, hehehehehe.

Hidup tentu seperti roda pedati. Ah sudah kuno. Baiklah, seperti jalan saja. Kadang mulus, kadang ada tanjakan, kadang menurun, kadang terperosok masuk lumpur juga. Apa yang di alami satu orang bisa di alami orang lain. Tapi apa yang dirasakan satu orang, belum tentu bisa dirasakan orang lain. Orang Jawa nyebutnya "sawang sinawang". Saling memandang. Saya memandang hidup kamu lebih baik. Padahal... belum tentu. Kalo di peribahasakan kira2 : rumput tetangga lebih segar daripada kebun sendiri.

Mungkin karena yang di tulis di blog ini baru yang biasa2 saja jadi tampak menyenangkan. Baiklah, saya bocorkan aib2 saya yang cukup memalukan. Biar blognya keliatan dramatis ya, hehehehe. Tapi ini beneran lho...

1. Menjelang puasa saya di tendang dan di jambak bapak. Sedikit menyakitkan hati dan saya sudah bersiap menerima tempelengan berikutnya. Maklum saja, bapak tuh kakinya tiap hari terlatih nendang bola. Jadi bisa di ramalkan episode apa berikutnya bila kaki sudah mulai melayang. Selain itu juga betapa kuatnya kaki bapak, yang pasti berotot kuat. Untung saja yang di hentakkan ke kaki saya adalah tendangan dekat. Coba kalo tendangan jarak jauh atau tendangan pisang, apa gak melepuh kaki saya.

Gara2nya sepele. Saya ngomel2 karena paman minjam motor sampe larut malam. Bapak tak suka dengan sikap saya yang tak ikhlas membantu. Sudah di kasih tau tapi tetap saja membantah. Akhirnya bukan mulut yang bicara untuk menghentikan omelan saya. Tapi kaki dan tangan.

2. Di tolak saat melamar kerja. Kuliah di ikip (sekarang uny) mempelajari ilmu ekonomi dan kependidikan hingga lulus. Tentu pengin ngamalin ilmu. Kata ustadz dan para cerdik pandai ilmu yang tidak di amalkan ibarat pohon tak berbuah. Eeeehhh.. tiap kali melamar jadi guru ternyata gak pernah di terima. Ada2 saja alasan penolakan. Cape deh.

Akhirnya kerja di bengkel. Meski bau oli, asap knalpot, keringetan, dimarahi customer, bos dan jam kerjanya seharian full, tapi lumayan juga. Bisa beli baju, jajan, jalan2, ngenet, ketemu teman2 baru. Mungkin saja kalo jadi guru tuti ini malah sombong dan merasa paling hebat. Bagaimanapun saya harus berterimakasih pada semua orang, teman2 kerja, orang2 serumah yang walo kadang galak tapi hatinya baik, juga para bos. Dan terutama sekali pada Allah tentunya.

3. Anti Sosial. Tuti ini malas bergaul. Kuper. Temannya bisa dihitung dengan jari. Kalo liat film (ini nih penyakitnya: lebih suka menyepi liat film ketimbang bersosialisasi dengan sesama manusia) yang tokohnya kuper rasanya "gue banget". Ada film pemuda kuper yang temannya adalah tikus (ratusan tikus siap membantu kala ia ada bahaya). Ada juga film pemuda kuper yang temannya adalah bayangan sang ibu. Padahal sang ibu sudah mati.

Dalam kenyataan maupun film, jadi orang kuper itu tersiksa. Di berita ada mahasiswa korea di AS yang kuper. Saat frustasi ia tembaki teman2 kuliahnya tanpa ampun. Ada juga berita seorang pemuda AS yang kuper, merasa tak ada seorangpun wanita yang mau mencintainya. Frustasi, lalu menembaki orang2 di dekatnya. Endingnya : dua2nya menembakkan pistol ke kepala mereka. Kompak ya.

Karena malas bergaul, saya pun... gak laku2, hehehehehe. Padahal kata ustadz yang ngisi pengajian kemaren : menyendiri itu tidak baik. Orang harus selalu dalam jamaah. Domba yang berjalan sendiri akan lebih mudah dimangsa beruang ketimbang domba yang berkelompok.

Begitulah sedikit aib saya. Kadang senang, kadang susah. Kadang ada rejeki, kadang bokek, hehehehe. Temannya gak banyak, gak pinter bergaul. Sukanya liat film drama yang nangis2. Temennya malah artis donk kalo gitu. Saya kenal, dia gak kenal.
READ MORE - Jalan Hidup